prestasi slide

17
May
2018

SD Muhida; Adakan Study Peradaban di SD Suronatan Jogjakarta

Wisata Edukasi Kelas 6

Senin,14/5/2018, Rombongan Wisata Edukasi SD Muhida tiba di kantor pimpinan pusat Muhammadiyah.di jalan Cik Ditiro No.23, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.pukul 08.15 wib.

Peserta wisata edukasi SD Muhida berjumlah 197 siswa dan 15 guru pendamping, yang datang langsung disambut langsung staf  Pimpinan Pusat Muhammadiyah yogyakarta, begitu ramah dan penuh kekeluargaan, hingga peserta betah dan tertib saat dijelaskan tentang sejarah berdirinya Muhammadiyah serta dakwa KH.Ahmad Dahlan di kampung kauman yogyakarta, oleh ustad ganjar, redaktur suara muhammadiyah. Beserta bapak Iqbal salah satu staff pimpinan pusat muhammadiyah turut mendampinginnya.


Kauman adalah tempat awal mula Muhammadiyah berdiri, berdakwa dikauman saat itu sangat berat dirasa KH.Ahmad Dahlan sekembalinya belajar dari Makkah. KH.Ahmad Dahlan ingin memperbarui aqidah dan kepercayaan masyarakat jogjakarta, nilai dakwa yang diajarkan oleh sang pencerah itu: tentang meninggalkan tahayul, bid'ah dan curofat.


Ditengah penjelasannya tentang sejarah KH. Ahmad Dahlan oleh ustad ganjar, tiba-tiba Nayla Faza Muslimah, siswi kelas 6 Ali bertanya, " Mengapa dakwa KH.Ahmad Dahlan dikauman selalu ditolak masyarakat kauman, sekembalinya KH.Ahmad Dahlan dari Makkah?" ujarnya. Ustad Ganjar, Perwakilan dari pimpinan pusat ini pun menjelaskan " bahwa, KH. Ahmad Dahlan, telah menanamkan aqidah yang benar, memberikan perubahan terhadap kebiasaan masyarakat yang salah saat ini, (3 nilai utama yang harus di rubah; 1. Tahayul, 2. Bid'ah dan 3. Curofat) mengubah kebiasaan masyarakat kuno dan kolot itu sangat susah, beda dengan memberikan ajaran pada masyarakat yang modern, mereka lebih percaya keyakinan nenek moyang yang ada dari pada perubahan yang benar, namun dengan kegigihan dan kesabaran dakwa KH. Ahmad Dahlan, kini perkembangan dakwa Muhammadiyah begitu pesat, termasuk di kauman.


Setelah berkunjung di kantor pimpinan pusat Muhammadiyah, rombongan melanjutkan ke SD Suronatan. Sekolah pertama yang didirikan KH Ahmad Dahlan. Tiba di SD Suronatan pada pukul 09.30, disaat siswa-siswi SD Suronatan istirahat.
Sambutan yang begitu ramah mereka perlihatkan, para guru SD Suronatan berjejer rapi dipintu gerbang sekolah, menyambut rombongan dari SD Muhida, bapak Budiono selaku kepala sekolah pun turut menyapa para peserta Wisadu dari SD Muhida.
Zilzalatun mukarromah, s.si. dipanggil Bu zanna cicit kh.ahmad dahlan,sebagai juru bicara saat menjelaskan sejarah SD Suronatan dan dakwa sang pencerah di kauman. Guru kelas 3 dan 4 ini lahir dikauman, beliau menjelska banyak akan sejarah sekolah muhammadiyah di Suronatan yogyakarta.


Bu zanna menceritakan SD Muhammadiyah Suronatan sudah berdiri satu abad yang lalu, sekolah ini didirikan tahun 1918, dengan nama standart school, sekolah ini khusus untuk anak laki-laki mulanya. SD Muhammadiyah Suronatan didirikan diatas lahan, pemberian kesultanan kraton yogyakarta, sekolah ini diperuntukkan anak-anak orang belanda dan anak pembesar kraton. Namun berjalannya waktu semua masyarakat Suronatan dan sekitarnya dibolehkan menimbah ilmu di sekolah ini. Sedangkan sekolah muhammadiyah untuk yang putri berada di dekat masjid gede kauman, yang dulunya bernama sekolah pawiyatan, sekarang menjadi SD Muhamka ( SDM KH Ahmad Dahlan) baru saja di lounching ujar bu zanna, cicit Ahmad Dahlan.
Tak hanya terkait sekolah saja, cicit sang pencerah pun menceritakan tentang penataan arah kiblat. KH Ahmad Dahlan telah memperbarui arah kiblat 2 langgar sekaligus, yang pertama langgar yang berada disamping rumahnya di kampung kauman, yang kedua langgar yang berada di SD Suronatan.


Diakhir perbincangannya bu zanna juru bicara SD Suronatan pun mengatakan bahwa murid-murid SD Muhammadiyah Suronatan banyak yang ikut berperan dalam pembuatan film nyai Walidah dan film sang Pencerah KH.Ahmad Dahlan. Film yang diproduksi oleh Muhammadiyah dan lagi viral akhir-akhir ini, SD Muhammadiyah Suronatan pun dijadikan latar dalam perfilman tersebut.
Semoga sekembalinnya Siswa-siswi kelas 6 SD Muhida setelah belajar sejarah dan budaya di jogja menambah wawasan dan pengetahuan serta menjadi siswa yang mandiri dan berprestasi, Aamiin. (Nurul)

 

 

Share on FaceBook | Share on WhatsApp | Share on Google+

Categories: Berita Anak-anak

[widgetkit id=4]