26
April
2018

Membudayakan Literasi Menulis di Muhida, Raih Pahala Ganda

Abdullah Makhrus, S.Pd

Siapa diantara Anda yang sering merasakan bahwa menulis itu berat?. Yang merasa dirinya seperti itu boleh angkat tangan, katakan “Saya!”. Jika Anda ikut angkat tangan dan menyangka bahwa menulis itu berat atau sangat berat, sampai Si Dilan,  tetangga di negeri sebarang pun mengatakan, “Jangan menulis, Berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja". Hahaha... #mulai.lebay😁

Kawan, prasangka Anda bahwa bahwa menulis itu berat maka pasti akan disetujui Allah. Lho lho lho..., kok bisa begitu?. Nih, Saya ingatkan sebuah pesan yang pernah diutarakan oleh  Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
”Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi, berhati-hatilah kawan dengan prasangka kita. Jika kita mengatakan menulis itu berat, maka jadi berat beneran, Tapi jika kita menganggap menulis itu ringan insyaAllah jadi ringan. Jadi Anda memilih berprasangka yang mana? #ayo.pilih.sekarang😋

(sumber gambar: kompas.com)


Menurut saya, seni menulis itu seperti  seni memasak. Diperlukan bahan dan keterampilan mengolahnya. Ini dimaksudkan agar siapa saja yang menikmati tulisan kita, akan merasakan gurih dan nikmatnya makanan yang kita olah. Jika kita belum mahir, tentu itu menjadi pemicu kita untuk terus belajar bukan justru meninggalkannya.

Bukankah Allah memberikan kita nikmat akal agar kita menjadi insan pembelajar?. Mendidik diri menjadi orang yang selalu belajar itu seperti memosisikan diri menjadi gelas kosong,  yang siap diisi air(ilmu) oleh siapa saja yang ingin menuangkannya. Dengan begitu, kita mudah belajar dan mudah menerima ilmu dari siapapun yang siap memberikan ilmunya pada kita.

Kesulitan penulis pemula seperti saya dan Anda bisa dikatakan banyak. Diantaranya, seputar bagaimana mencari ide, darimana memulai menulisnya, bagaimana mengolah tulisan menjadi renyah untuk dinikmati, bagaimana mengedit naskah tulisan dan kapan memublikasikannya.

Dari banyak alasan-alasan tersebut, menurut saya yang paling berat adalah menentukan kapan memulai menuliskannya. Maka, motivasi untuk memulai menulis harus kita putuskan segera dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. #mirip.proklamasi. 😁

Sesungguhnya jawaban kapan kita akan memulai menulis sejatinya sudah jelas, kita bisa menjawabnya. Kapan? Ya, sekarang. Dalam bahasa lain now alias saiki!. Mengapa? Ingat pepatah arab yang mengatakan:

بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ

“Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari”

Sebagus dan sebaik apapun ayam esok hari, pasti lebih enak telur yang dimasak pada hari ini dan dimakan hari ini, karena ayam esok hari belum tersedia dihadapan kita.

Kita hanya bisa sebatas membayangkan ayam nya saja, rasa dan aromanya pasti akan tersedia esok hari padahal belum tentu ada. Ingatlah bahwa hari kemarin adalah masa lalu dan sejarah kita. Hari ini adalah kenyataan yang harus kita tempuh, dan hari esok adalah harapan.

 
Harapan yang kita panjatkan belum tentu sama dengan apa yang Allah rencanakan. Harapan kita berharap besok bisa menulis seperti yang kita inginkan, belum tentu sejalan dengan yang Allah inginkan. Sekecil apapun pekerjaan yang bisa kita kerjakan pada hari ini, kerjakan sekarang! Tetap berharap untuk hari esok, namun tetap sempurnakan ikhtiar untuk menulis hari ini.

Maka sering saya memberikan kesimpulan bahwa, ”Pekerjaan berat itu akan terasa ringan jika tidak dikerjakan😁. Namun sangat nikmat, jika Anda mampu menyelesaikan. Termasuk pekerjaan menulis😋”.

Satu lagi yang perlu selalu kita ingat menulis itu jalan untuk menunjuki kebaikan pada orang lain, ingatlah sebuah motivasi dahsyat dari Rasulullah:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
”Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Coba bayangkan, betapa besar pahala seorang penulis manakala tulisannya menginspirasi banyak orang kemudian mereka tergerak melakukan perubahan dalam dirinya. Bukankah itu seperti membuat mesin pahala yang terus mengalirkan pahala bagi penulisnya termasuk Anda yang akan menulis hari ini?. Hehe... Sampai disini, tentu  Anda sangat tertarik kan untuk menulis?

Inilah yang kini sedang kita kembangkan dikalangan siswa dan guru. Di SD Muhammadiyah 1 Pucang anom yang merupakan salah satu sekolah unggul di Sidaorjo membudayakan kebiasaan dikalangan siswa dengan menjadwaklkan menulis setiap hari senin. Apa yang mereka tulis?, apa saja kegiatan yang berkesan dan menarik selama sepekan terakhir ataupun kegiatan mereka selama hari sabtu dan ahad.

Bagaimana dengan guru?, gurupun tak mau kalah dengan siswanya. Guru difasilitasi menulis di rubrik majalah muhida yang terbit setiap semester dan secara berkala secara bergantian menulis di portal berita milik persyarikatan muhamadiyah baik klikmu, faskho, pwmu atau web sekolah muhida di ‎sdmuhida.sch.id. 

Pertanyaan terakhir setelah membaca tulisan saya ini,

Anda siap menulis sekarang kan?😁

 

Abdullah Makhrus, S.Pd

*) Penulis guru kelas 5 di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom Sidoarjo

Categories: Berita lain-lain

kolom ikwam

Semenit SajaBetapa lamanya melayani Allah SWT selama lima belas menit.

read more

Polling Muhasabah

Bagaimana menurutmu Aplikasi SIMuhida?

Sudah mantul - 0%
Perlu perbaikan tampilan - 0%
Tambahkan pubg didalamnya - 0%
Notifikasi nya membosankan - 0%
Ada suara musiknya - 0%

Total votes: 0
The poll has expired
Refresh results
 

Majalah Muhida #18

Cover story edisi ini: Revolusi Pendidikan Generasi 4.0

Muhida #18

Januari 2019
now available